Program Literasi

 1. Sagita (Sabtu giat literasi dan aksi nyata)

SAGITA (Sabtu Giat Literasi dan Aksi Nyata) merupakan program rutin sekolah yang dilaksanakan setiap hari Sabtu sebagai wadah untuk menumbuhkan budaya literasi sekaligus menanamkan semangat aksi nyata di kalangan peserta didik. Kegiatan ini dirancang agar siswa tidak hanya gemar membaca dan menulis, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai yang diperoleh dari kegiatan literasi dalam kehidupan sehari-hari. Setiap Sabtu, siswa menampilkan hasil dari kegiatan literasi yang sudah dilaksanakan sebelumnya di rumah, di mana siswa membaca berbagai sumber bacaan seperti buku nonteks, artikel inspiratif, atau cerita lokal. Setelah itu, siswa melakukan refleksi singkat dengan cara presentasi ringkasan buku yang dibaca. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan “Aksi Nyata”, yaitu kegiatan aplikatif yang menghubungkan hasil literasi dengan tindakan positif, seperti penyampaian pesan moral, mengampanyekan gerakan peduli lingkungan, membuat karya tulis kreatif, atau berbagi bacaan inspiratif di pojok literasi sekolah. Program SAGITA diharapkan menjadi sarana pembentukan karakter pelajar yang kritis, kreatif, peduli, dan berbudaya literasi, sejalan dengan 8 dimensi profil lulusan. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya membaca untuk tahu, tetapi juga berliterasi untuk beraksi — menebarkan inspirasi dan perubahan di lingkungan sekitar. 

 2. Mading Sekolah 

Program Mading Sekolah merupakan salah satu kegiatan literasi yang bertujuan untuk menumbuhkan budaya baca, tulis, dan berkreasi di kalangan peserta didik. Melalui kegiatan ini, siswa didorong untuk menyalurkan ide, gagasan, dan kreativitasnya dalam bentuk tulisan, gambar, maupun karya seni yang dimuat di majalah dinding sekolah. Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa untuk belajar menulis berita, artikel, puisi, cerpen, serta menampilkan karya visual seperti ilustrasi, poster, dan infografis. Selain itu, Mading Sekolah juga berfungsi sebagai media komunikasi dan informasi yang memperkuat rasa kebersamaan serta memperluas wawasan seluruh warga sekolah. Pelaksanaan program dilakukan secara berkala, dengan melibatkan tim redaksi dari siswa dan guru pembimbing. Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh sikap kritis, kreatif, komunikatif, serta apresiatif terhadap karya sendiri maupun karya orang lain, sehingga budaya literasi di sekolah semakin hidup dan berkelanjutan.

3. Pojok Baca

Program Pojok Baca merupakan salah satu kegiatan literasi sekolah yang bertujuan untuk menumbuhkan minat baca dan membiasakan peserta didik berinteraksi dengan bahan bacaan di berbagai tempat. Pojok Baca menyediakan ruang kecil yang nyaman dan menarik di lingkungan sekolah seperti di kelas, perpustakaan mini, lorong, atau area tunggu yang dilengkapi dengan koleksi buku, majalah, dan bacaan ringan yang bermanfaat. Melalui kegiatan ini, siswa didorong untuk memanfaatkan waktu luang mereka dengan membaca, berdiskusi, dan berbagi cerita dari buku yang dibaca. Guru dan Tim Literasi Sekolah berperan aktif dalam mengelola, memperbarui koleksi, serta menciptakan suasana membaca yang menyenangkan. Program Pojok Baca diharapkan dapat menumbuhkan budaya gemar membaca, meningkatkan wawasan, serta membangun kebiasaan belajar mandiri di kalangan siswa. Dengan adanya pojok baca di setiap sudut sekolah, kegiatan literasi tidak hanya terpusat di perpustakaan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

4. Pemustaka terbaik

Program Pemustaka Terbaik merupakan salah satu kegiatan literasi sekolah yang bertujuan untuk menumbuhkan minat baca, meningkatkan kunjungan ke perpustakaan, serta menumbuhkan kebiasaan membaca dan memanfaatkan sumber informasi secara bijak. Kegiatan ini memberikan apresiasi kepada peserta didik yang aktif meminjam buku, rajin berkunjung ke perpustakaan, tertib dalam pengembalian, serta mampu menunjukkan pemahaman dan refleksi dari bahan bacaan yang telah dibaca. Penilaian dilakukan secara berkala oleh pustakawan dan tim literasi berdasarkan data kunjungan, catatan peminjaman, serta aktivitas literasi siswa di perpustakaan. Melalui program ini, diharapkan muncul teladan bagi siswa lain untuk gemar membaca dan menjadikan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang menyenangkan. Penghargaan kepada Pemustaka Terbaik menjadi bentuk motivasi agar budaya literasi tumbuh secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.

5. Lomba literasi sekolah

Program Lomba Literasi Sekolah merupakan kegiatan yang dirancang untuk menumbuhkan semangat dan kreativitas peserta didik dalam bidang literasi, baik literasi baca-tulis, numerasi, digital, maupun budaya. Melalui lomba ini, siswa diberi kesempatan untuk mengekspresikan ide, imajinasi, dan kemampuan berpikir kritis dalam berbagai bentuk karya, seperti menulis cerpen, puisi, artikel, pidato, poster literasi, video kreatif, hingga resensi buku. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, memperluas wawasan, serta menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam berkarya dan berkompetisi secara sehat. Selain itu, lomba literasi juga menjadi ajang apresiasi terhadap karya dan usaha siswa dalam mengembangkan kemampuan literasi di lingkungan sekolah. Pelaksanaan lomba dilakukan secara berkala oleh Tim Literasi Sekolah, bekerja sama dengan guru mata pelajaran dan pustakawan serta dilaksanakan pada momen-momen tertentu. Pemenang lomba akan mendapatkan penghargaan dan karyanya dapat dipublikasikan melalui mading,  atau media sosial sekolah sebagai bentuk motivasi bagi seluruh warga sekolah. Dengan adanya Lomba Literasi Sekolah, diharapkan budaya literasi tumbuh lebih kuat, menyenangkan, dan berkesinambungan di seluruh komunitas belajar.

6. LIDI (Literasi digital)

Program Literasi Digital merupakan kegiatan literasi sekolah yang bertujuan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan memahami, menggunakan, dan memanfaatkan teknologi digital secara bijak, kreatif, dan bertanggung jawab. Dalam era informasi yang serba cepat, kemampuan literasi digital menjadi keterampilan penting agar siswa mampu menyaring informasi, berkomunikasi secara etis di dunia maya, serta memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses belajar. Kegiatan literasi digital dapat berupa pelatihan penggunaan sumber belajar digital, pembuatan karya berbasis teknologi (seperti poster digital, vlog edukatif, atau infografis), serta edukasi tentang keamanan dan etika berinternet. Melalui kegiatan ini, siswa juga diajak untuk mengenal berbagai platform pembelajaran daring dan aplikasi literasi yang dapat meningkatkan keterampilan membaca, menulis, dan berpikir kritis. Dengan pelaksanaan program Literasi Digital, sekolah berupaya menciptakan ekosistem pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus menanamkan karakter positif dalam penggunaan media digital. Program ini diharapkan mampu menumbuhkan generasi pelajar yang cakap digital, produktif, dan berintegritas di dunia maya maupun dunia nyata.

7. Literasi Pagi (15 Menit Membaca Sebelum Belajar)

Program Literasi Pagi (15 Menit Membaca Sebelum Belajar) merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap hari sebelum proses pembelajaran dimulai. Kegiatan ini bertujuan untuk membiasakan peserta didik membaca secara mandiri, menumbuhkan minat baca, serta menanamkan budaya literasi sebagai bagian dari kegiatan belajar sehari-hari di sekolah. Selama 15 menit sebelum pelajaran pertama dimulai, seluruh warga sekolah baik siswa maupun guru meluangkan waktu untuk membaca berbagai jenis bahan bacaan, seperti buku fiksi, nonfiksi, majalah, artikel, atau bacaan edukatif lainnya. Kegiatan ini dilaksanakan di dalam kelas, dipandu oleh guru, dengan suasana yang tenang dan menyenangkan. Melalui kegiatan ini, peserta didik diharapkan mampu meningkatkan kemampuan memahami bacaan, memperkaya kosakata, serta menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap berbagai ilmu pengetahuan. Selain itu, Literasi Pagi juga menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menyiapkan fokus dan semangat belajar sejak awal hari. Dengan pelaksanaan yang konsisten dan terarah, Program Literasi Pagi diharapkan mampu membentuk karakter pelajar yang gemar membaca, berpikir kritis, dan memiliki wawasan luas.

8. Asesmen Cerdas: Membangun Literasi dan Numerasi dalam Setiap Soal

Program Asesmen Cerdas: Membangun Literasi dan Numerasi dalam Setiap Soal merupakan kegiatan literasi sekolah yang bertujuan untuk mengintegrasikan keterampilan berpikir kritis, analitis, dan kontekstual ke dalam setiap bentuk penilaian pembelajaran. Melalui program ini, guru didorong untuk merancang soal-soal asesmen yang tidak hanya mengukur pengetahuan faktual, tetapi juga kemampuan memahami informasi (literasi) dan menalar dengan angka serta data (numerasi) dalam konteks kehidupan nyata. Kegiatan ini dilakukan melalui pelatihan penyusunan soal berbasis literasi dan numerasi, pendampingan guru dalam pembuatan bank soal kontekstual, serta penerapan asesmen yang menantang kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Soal-soal yang disusun diharapkan mampu menumbuhkan kemampuan peserta didik dalam membaca data, menganalisis teks, memecahkan masalah, serta mengambil keputusan secara rasional. Dengan pelaksanaan program Asesmen Cerdas, sekolah berupaya mewujudkan sistem evaluasi pembelajaran yang lebih bermakna, adil, dan berorientasi pada kompetensi. Program ini juga menjadi langkah strategis untuk membangun budaya berpikir kritis di kalangan guru dan siswa, serta mendukung peningkatan kualitas pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait